Bukit Jamur, Pesona Fenomena Alam

Panorama alam nan indah senantiasa menarik untuk dilihat. Kabupaten Gresik juga tengah berbenah dengan potensi objek wisata alam yang ada di wilayahnya. Salah satunya adalah Bukit Jamur Desa Bungah, Kecamatan Bungah. Seperti apakah keindahannya?

Kabupaten Gresik yang dikenal sebagai kota industri tak lantas membuat kabupaten tersebut kehabisan tempat menghilangkan rasa penat. Justru di sana ada panorama unik dan langka yang terbentuk secara alami dari hasil fenomena alam, yang belakangan ini semakin gencar dipromosikan yakni Bukit Jamur.

Sore itu (5/11) penjaga palang gerbang memegang tumpukan karcis masuk area wisata Bukit Jamur. Sambil menulis plat nomor kendaran pengunjung, dengan ramah dia menunjukkan jalan menuju area. Maklum, lokasinya berada di area penambangan PT Jaya Shakti Barutama yang sangat luas.

“Dari situ belok kanan ya mas. Langsung lurus saja terus sampai ketemu bukitnya, sebelah kanan jalan,” tutur dia, sambil tangannya menunjuk jalan bercabang dekat palang gerbang. Kala itu jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Tapi, di area wisata Bukit Jamur pengunjung masih terlihat datang silih berganti.

Puluhan orang saling cakap dan bergantian memotret di dinding-dinding bebatuan yang mirip jamur raksasa itu. Sebagian di antaranya juga berdiri di sekitar penanda sebagai ikon baru berupa tulisan ‘Bukit Jamur’ berwarna merah putih di depan bukit. Sebagian lagi, duduk santai di area yang digarap menjadi taman.

Dani dan Nilam, di antara pengunjung asal Desa Kalirejo, Gresik itu mengaku kedua-kalinya ke Bukit Jamur. “Dulu nggak sebagus ini. Belum ada taman, belum ada tulisan Bukit Jamur sebagi ikon juga. Sekarang tambah bagus, terus diperbaiki setelah sempat ditutup sebentar,” kata Nilam, di sela swafoto bersama suaminya, Dani.

Tahun 90-an silam, sebelum dikenal masyarakat sebagai bukit jamur, lokasi tersebut adalah tambang galian seluas 60 hektar. Nah, bekas galian yang sudah lama dibiarkan itu mengalami fenomena alam tak terduga. Tanah di bawah batu-batu besar yang tak bisa dihancurkan saat penambangan itu mengalami erosi oleh hujan dan angin.

Tanah di bawah bebatuan pun mengecil dan menipis, membentuk seperti jamur yang seakan-akan tumbuh secara berkelompok dengan tinggi beragam. Mulai sekitar 2 meter sampai 7 meter. Akhirnya, fenomena alam itu menjadi pesona yang unik serta dipilih masyarakat menjadi salah satu pengusir penat.

Selain itu, pesona yang ditawarkan adalah hamparan pasir yang mengelilingi kawasan Bukit Jamur. Meski sederhana, tapi saat diabadikan foto yang dihasilkan tampak lebih realistis. Apalagi didukung dengan bunga dan pepohonan yang sengaja di tanam pengelola guna mempercantik dan membuat pengunjung betah berlama-lama.

Untuk menikmatinya tak ada biaya tiket masuk. Pengunjung hanya perlu membayar parkir yakni Rp 5 ribu untuk motor dan Rp 10 ribu untuk mobil. Namun, sayangnya wisata ini hanya dibuka hari Minggu, dan batasnya sampai jam 17.00 WIB . Pada hari biasa, area tersebut adalah area aktif sebagai lahan tambang kapur.

Waktu terbaik berkunjung adalah sore hari, karena mengingat lokasinya berada di area lepas yang cukup panas. Untuk mencapai lokasi, pengunjung bisa melewati jalan ke arah jalur pantura. Yaitu, setelah sampai di Jembatan Sungai Bengawan Solo Sembayat lurus hingga ketemu pertigaan Bungah. Lokasinya sekitar 1 Km ke utara dari pertigaan tepat di depan lapangan futsal.

Reza, salah satu pengelola menuturkan, pihaknya ke depan akan melakukan pembangunan dan menyediakan fasilitas lain. Di antaranya pengaspalan akses jalan masuk. Karena selama ini, akses jalan masih berupa permukaan tanah yang belum rata. Berdebu saat musim kering dan berlumpur saat musim hujan.

Pengelola bersama pemerintah desa berusaha agar Bukit Jamur kembali popular dan dikenal masyarakat. Nasihin, Kepala Desa Bungah berharap, ke depan wisata yang ada di desanya ini mampu terkelola dengan baik. Di samping mampu menambah daya tarik wisatawan juga mampu menambah pemasukan kas desa. (ndi)