Wujud Regenerasi Waranggana

Senang dan lega. Itulah ungkapan Anita Fitria Erawati, salah satu waranggana muda asal Jatirogo, yang mengikuti prosesi wisuda waranggana di pemandian Bektiharjo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban (1/11).

“Saya merasa senang dan lega setelah diwisuda,” ujar Anita. Kelegaan itu wajar sebab setelah dua tahun menimba ilmu sebagai waranggana di Kabupaten Tuban semakin membuat dirinya terpacu untuk menjadi seniman langen tayub.

“Berikutnya, rencana ke depan akan terus meningkatkan kemampuan dan ilmu yang telah dipelajari, serta akan terus belajar dari waranggana senior terkait tembang dan tarinya,” kata perempuan alumnus SMK Negeri 8 Surakarta, Jawa Tengah, jurusan Seni Karawitan itu.

Perempuan 20 tahun yang juga anak Mbarsih, waranggana senior di Kab Tuban tersebut menegaskan, ritual siraman waranggana merupakan wujud regenerasi. Sebab, saat ini sulit mencari dan menemukan perempuan yang mau bergelut dengan profesi sebagai waranggana.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tuban, Sulistyadi, menambahkan, siraman waranggana merupakan bekal dasar bagi seniman langen tayub tentang bagaimana pendidikan adab dan sopan santun sebagai waranggana.

“Dengan wisuda ini diharapkan para waranggana sudah siap terjun ke masyarakat melaksanakan kegiatannya, yaitu berkaitan dengan hiburan langen tayub yang sudah dikenal secara nasional,” kata Sulistyadi, yang juga Ketua Pramuka Kwarcab Kabupaten Tuban.

Menjadi pelaku seni tradisional, seperti waranggana (sinden) memang tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Sebab, untuk bisa survive di kancah seni langen tayub tak cukup bermodal cantik dan bodi yang aduhai. Serta punya suara yang merdu, namun banyak proses ritual yang sudah dipakemkan harus dilalui untuk bisa disebut sebagai waranggana sejati, seperti melakukan prosesi siraman.

Tahun ini sedikitnya ada 85 waranggana yang benar-benar bisa disebut tulen. Pasalnya, mereka telah menjalani prosesi wisuda di pemandian Bektiharjo, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban.

Tak hanya para sinden, tetapi prosesi wisuda tersebut juga diikuti 65 pramugari (pria pendamping waranggana yang mengenakan blangkon) dan 47 pengrawit yang mengiringi prosesi. Mereka berjalan mengelilingi pemandian air guna melakukan prosesi siraman dengan cara membasahi wajah dan kepalanya satu per-satu. Harapannya mampu mempertontonkan kepiawaiannya menjadi waranggana semalam suntuk saat pentas. Selain itu, ritual dilakukan agar para seniman tayub terhindar dari musibah.

“Ini (prosesi siraman) kita lakukan secara sakral agar tidak ada peristiwa yang tidak kita inginkan. Tapi, yang jelas ini untuk mengakrabkan para seniman dan sebagai ajang silaturahmi,” kata Indra, salah satu seniman tayub.

Sedangkan Drs Sulistyadi, menambahkan, agenda ini tidak hanya sebagai prosesi yang sakral bagi pegiat langen tayub, namun juga sebagai agenda wisata budaya Kabupaten Tuban.

Tak hanya itu, kata Didit–sapaan akrab Sulistyadi—bahwa tujuan dilaksanakannya siraman seniman langen tayub ini, yakni mengembangkan potensi seni budaya Kabupaten Tuban sebagai salah satu aset terpenting dalam menyumbang pendapatan asli daerah.

“Juga meningkatkan kualitas pelaku seni, khususnya seniman langen tayub dalam menunjang visi dan misi kepariwisataan Kabupaten Tuban. Dan juga sebagai sarana memeriahkan Hari Jadi Tuban (HJT) yang ke-724,” lanjut mantan Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban ini. (uba, edt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here